UNTUK MU AYAH
Bersama lima perkaramu pondasi hidupku
Bersama enam perkaramu sebagai Tiang hidupku
Bersama air makfirohmu aku hidup
Bersama tutur ucapmu ku melangkah
Kau sambut fajar manismu yang sejuk
Mengikuti matahari terbit menyinari bumi
Hatipun pergi dan memulai belajar hidup
Tahunpun berjalan dengan lambat
Tahunpun belum mengizinkan juga untuk aku bisa membalasnya
Hati bersabar dan membisik inilah pelajaran hidup
Inilah duniamu ..dunia fana yang penuh dengan coba
Tahun tlah berputar satu putaran…
Hati berbisik dan menagis perlahan ……
Tiba tiba terdengar suara serumu memamngilku
Akupun bergegas untuk mencari suara itu
Ku tahu ini suara Ayah….
Akupun berjalan diatas jebatan panjang yang berlubang
Ku pergi meski matahari telah terbenam, redup dan semakin petang
Di kegelapan itu ku banyak bertemu dengan anak buah fira’oun
Yang tidak punya hati dan nurani, dia telah mencuri waktuku
Ku mencoba untuk mencari suaramu….
Dan perlahan sampai matahari fajar …..
dengan sedikit lelah melewati jembatan panjang gelap dan berlubang
Fajarpun telah datang, aku mencoba lagi mengejar suara itu
Tapi hati berhenti mengucap dan jantungpun berlarian entah kemana
Resah , gelisah dan merunta raga perlahan melangkah dan mendekati sumber suara itu
Ku deakti dan kucari dimana Ayah…….dimana Ayah
Raga telah melumpuhkanku seketika aku tidak bisa berbuat apa2
Tak sempatku menatap muka senyumu
Tak sempatku mengucap salam kepadamu
Tak sempatku menjujung namamu
Kau telah pergi menuju ke abadian,
Menuju undangan syariatmu
Semilir dibawah kamoja , ku mengais dan berdoa
Mengenang segala salah dan dosaku
Ku belum bisa membalas budimu ayah
Kepergianmu telah meninggalkan pelajaran yang berharga bagiku
Meninggalkan kedewasaan hidup ,Meninggalkan arti hidup untuku
Setiap jam, waktu bahkan detik waktu luangku
Ku ingin menemuimu Ayah
Lewat sepatah pusi ini untuk mengenangmu
Bersama embun fajar kemarau ku sertakan doa
Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik disisi-NYA
AMIIN
Madiun 16 September 2006
Bersama lima perkaramu pondasi hidupku
Bersama enam perkaramu sebagai Tiang hidupku
Bersama air makfirohmu aku hidup
Bersama tutur ucapmu ku melangkah
Kau sambut fajar manismu yang sejuk
Mengikuti matahari terbit menyinari bumi
Hatipun pergi dan memulai belajar hidup
Tahunpun berjalan dengan lambat
Tahunpun belum mengizinkan juga untuk aku bisa membalasnya
Hati bersabar dan membisik inilah pelajaran hidup
Inilah duniamu ..dunia fana yang penuh dengan coba
Tahun tlah berputar satu putaran…
Hati berbisik dan menagis perlahan ……
Tiba tiba terdengar suara serumu memamngilku
Akupun bergegas untuk mencari suara itu
Ku tahu ini suara Ayah….
Akupun berjalan diatas jebatan panjang yang berlubang
Ku pergi meski matahari telah terbenam, redup dan semakin petang
Di kegelapan itu ku banyak bertemu dengan anak buah fira’oun
Yang tidak punya hati dan nurani, dia telah mencuri waktuku
Ku mencoba untuk mencari suaramu….
Dan perlahan sampai matahari fajar …..
dengan sedikit lelah melewati jembatan panjang gelap dan berlubang
Fajarpun telah datang, aku mencoba lagi mengejar suara itu
Tapi hati berhenti mengucap dan jantungpun berlarian entah kemana
Resah , gelisah dan merunta raga perlahan melangkah dan mendekati sumber suara itu
Ku deakti dan kucari dimana Ayah…….dimana Ayah
Raga telah melumpuhkanku seketika aku tidak bisa berbuat apa2
Tak sempatku menatap muka senyumu
Tak sempatku mengucap salam kepadamu
Tak sempatku menjujung namamu
Kau telah pergi menuju ke abadian,
Menuju undangan syariatmu
Semilir dibawah kamoja , ku mengais dan berdoa
Mengenang segala salah dan dosaku
Ku belum bisa membalas budimu ayah
Kepergianmu telah meninggalkan pelajaran yang berharga bagiku
Meninggalkan kedewasaan hidup ,Meninggalkan arti hidup untuku
Setiap jam, waktu bahkan detik waktu luangku
Ku ingin menemuimu Ayah
Lewat sepatah pusi ini untuk mengenangmu
Bersama embun fajar kemarau ku sertakan doa
Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik disisi-NYA
AMIIN
Madiun 16 September 2006
0 comments on UNTUK MU AYAH :
Post a Comment and Don't Spam!